Anak dengan alergi makanan memang sering mengalami gangguan ringan seperti gatal atau diare, namun efek jangka panjangnya bisa jauh lebih serius. Alergi pada saluran cerna dapat merusak lapisan pelindung usus, sehingga nutrisi dari makanan tidak terserap maksimal. Meski terlihat cukup makan, tubuh anak tetap kesulitan mendapatkan gizi yang dibutuhkan—akibatnya berat dan tinggi badan sulit bertambah.
Jika kondisi ini berlangsung lama, anak alergi berisiko mengalami stunting, yaitu pertumbuhan tinggi yang tidak optimal akibat kekurangan gizi. Reaksi alergi yang melepaskan histamin juga bisa mengganggu kualitas tidur, padahal hormon pertumbuhan (growth hormone) bekerja maksimal saat anak tidur nyenyak di malam hari. Jadi, alergi bukan hanya soal gatal atau ruam—tetapi bisa berdampak langsung pada pertumbuhan fisik anak.
Dampak Jangka Panjang Alergi Terhadap Pertumbuhan Anak
Alergi makanan tidak hanya menimbulkan gejala akut seperti muntah atau ruam, tapi juga menghambat pertumbuhan berat dan tinggi badan anak. Dokter spesialis anak menyebutkan bahwa dinding usus anak alergi sering mengalami gangguan, sehingga malabsorpsi (penyerapan gizi yang buruk) dapat terjadi meskipun anak terlihat makan banyak.
Hal ini membuat anak alergi sulit naik berat badannya dan rentan terkena stunting. Selain itu, tidur yang terganggu akibat rasa tidak nyaman atau gatal juga menurunkan kadar hormon pertumbuhan. Akumulasi dari hal ini bisa menyebabkan anak tertinggal dalam fase tumbuh kembang dibandingkan anak seusianya.
Kenapa Anak Alergi Harus Tetap Mendapat Gizi Lengkap?
Anak alergi tetap memerlukan asupan gizi lengkap dan seimbang, bahkan bisa jadi lebih tinggi dari anak tanpa alergi. Banyak makanan yang menjadi pantangan alergi—seperti susu sapi, telur, ikan, atau kacang-kacangan—sebenarnya adalah sumber utama protein, kalsium, dan lemak sehat. Menghindari tanpa mengganti sama saja dengan membuka celah pada kekurangan nutrisi penting.
Misalnya, anak yang alergi susu sapi perlu diganti dengan susu formula berbasis soya atau sumber kalsium lainnya seperti tahu, tempe, atau sayuran hijau. Jika tidak ada substitusi yang tepat, risiko gangguan tumbuh kembang meningkat. Prinsipnya: hindari alergen yang terbukti, bukan semua makanan “terduga”, dan pastikan selalu ada pengganti gizi yang setara.
Protein Hewani vs Nabati: Mana yang Aman untuk Anak Alergi?
Protein hewani (seperti daging, ikan, susu, telur) memiliki asam amino lengkap dan lebih mudah diserap, sementara protein nabati (seperti tahu, tempe, kacang) lebih kaya antioksidan dan serat namun perlu dikombinasikan untuk mencukupi asam amino esensial.
Jika anak alergi terhadap salah satu protein hewani, misalnya telur atau susu, alternatif seperti susu soya formula, tempe, dan tahu dapat dimanfaatkan. Namun tetap perlu konsultasi karena beberapa anak juga bisa alergi terhadap sumber nabati seperti kacang tanah atau kedelai.
Kebutuhan Vitamin Harian Anak dengan Alergi
Vitamin dan mineral seperti A, C, D, E, zat besi, kalsium, dan seng sangat penting untuk daya tahan dan pertumbuhan. Anak yang alergi susu sapi, misalnya, berisiko kekurangan vitamin D dan kalsium, karena kehilangan salah satu sumber utamanya.
Vitamin D penting untuk menyerap kalsium serta mendukung imunitas. Pemerintah menganjurkan suplemen vitamin D harian jika asupan tidak tercukupi. Selain itu, vitamin C dari buah segar dan vitamin A dari sayuran berwarna oranye (seperti wortel dan labu) juga harus menjadi bagian dari menu harian.
Cara Menyusun Menu Harian Bebas Alergen untuk Si Kecil
Identifikasi dan hindari alergen spesifik, bukan semua makanan “terduga”.
Gunakan substitusi bergizi seperti tahu untuk mengganti telur, atau ikan tawar sebagai alternatif ikan laut.
Terapkan pola “Piring Makanku”: ½ sayur-buah, ¼ protein, ¼ karbohidrat.
Pilih karbohidrat kompleks dan lemak sehat seperti ubi, roti gandum, alpukat, atau minyak zaitun.
Pastikan camilan juga bergizi—smoothie buah, bubur kacang hijau, atau yoghurt soya.
Catat menu dan pantau berat badan anak secara berkala.
Gizi Seimbang untuk Anak Alergi yang Susah Makan
Untuk anak yang susah makan, sediakan makanan:
Padat kalori dan tinggi protein (misalnya kentang + ayam, bubur alpukat, selai kacang)
Porsi kecil tapi sering (5–6 kali sehari)
Beragam warna dan tekstur, masak dengan kaldu atau rempah agar lebih menarik
Tambahkan bahan fortifikasi alami seperti minyak ikan, bubuk vitamin anak, atau telur rebus yang dihaluskan ke dalam makanan
Ajarkan pola makan seimbang sejak dini, dan jangan menyerah bila anak menolak makanan baru—tawarkan kembali di lain waktu.
Albumin dan Nutrisi Pemulihan: Solusi Anak Kurang Energi karena Alergi
Albumin adalah protein utama dalam plasma darah yang berperan penting dalam mengangkut nutrisi dan mempercepat regenerasi sel. Anak dengan asupan protein rendah cenderung memiliki kadar albumin yang turun, membuatnya lemah dan sulit pulih dari sakit.
Salah satu sumber albumin alami yang sangat tinggi adalah ikan gabus. Kandungan albuminnya sangat tinggi, dan digunakan dalam suplemen atau makanan anak untuk mendukung pemulihan dan penambahan berat badan. Jika diet harian belum mencukupi, dokter bisa merekomendasikan ekstrak ikan gabus atau suplemen kaya albumin.
Bahan Alami Penambah Nafsu Makan Anak Alergi
Madu murni – Menambah energi dan nafsu makan secara alami.
Temulawak – Merangsang cairan pencernaan dan empedu, membantu anak merasa lapar.
Ikan gabus – Mempercepat pemulihan dan meningkatkan energi.
Buah-buahan ringan seperti pepaya atau apel – mudah dicerna dan disukai anak.
Rempah jahe atau kayu manis juga bisa dicoba dalam jumlah kecil untuk merangsang selera makan.
Contoh produk suplemen seperti Grotima menggabungkan beberapa bahan ini dalam satu formula, untuk mendukung nafsu makan dan imunitas anak alergi.
Tips MPASI untuk Bayi Alergi Tanpa Takut Reaksi
Perkenalkan makanan satu per satu dan beri jeda agar reaksi mudah diamati.
Masak semua bahan hingga matang sempurna (terutama telur dan ikan).
Ulangi makanan aman secara rutin untuk membantu tubuh mengenali dan menerima.
Teruskan ASI atau susu formula hypoallergenic sebagai dasar utama gizi bayi.
Jika muncul gejala seperti ruam atau muntah, segera hentikan dan konsultasikan ke dokter.
Suplemen Pendamping seperti Grotima: Kapan Perlu Diberikan?
![]()
Suplemen hanya perlu diberikan jika diet alami tidak cukup, misalnya:
Anak sulit makan
Berat badan tidak naik
Pemulihan pasca sakit
Grotima, yang mengandung madu, temulawak, ikan gabus, dan gamat, bisa menjadi opsi suplemen alami yang mendukung nafsu makan, imunitas, dan pertumbuhan anak alergi. Namun, tetap konsultasikan dengan dokter sebelum memulai.
selanjutnya : Penyebab Alergi pada Anak yang Sering Diabaikan & Solusi Alaminya